The Unspoken
Rabu, November 01, 2017
Raka mengemasi barang-barangnya. Tanpa meminta izin kepada guru, ia langsung keluar dari kelas. Tepat setelah itu bel pulang berbunyi. Seperti biasa, dia menjadi satu-satunya murid di kelas yang datang paling akhir dan pulang paling awal. Sungguh ajaib ia tetap berada pada posisi ranking dua dengan perilaku seperti itu.
Teman-temannya yang baru saja turun ke lantai satu masih mendapati Raka berdiri di teras sekolah memainkan ponselnya, sepertinya masih menunggu jemputannya. Padahal jika ia keluar lebih awal, ia seharusnya sudah pulang duluan, kan? Lalu kenapa ia tidak sekalian pulang setelah bel saja?
"Laki-laki aneh." Salah seorang teman perempuan sekelasnya berbisik pada dua teman lainnya. "Sampai kapan dia tahan tidak punya teman?"
"Apa yang kau harapkan dari manusia es seperti dia? Bahkan ketua kelas saja muak dengan sikap acuhnya."
"Bayangkan bagaimana saat nanti dia sudah cukup umur untuk menikah. Apa ada yang mau dengannya?"
Dengan jarak yang kurang dari 2 meter dari tempat teman-temannya bergunjing, Raka tentu bisa mendengar apa saja yang mereka bicarakan tentang dirinya. Tapi ia tidak peduli dan mengacuhkan mereka--seperti biasa. Baginya, orang-orang yang suka mengusik kehidupan orang lain seharusnya diacuhkan saja. Perhatian adalah yang mereka inginkan. Dan membuat orang itu terpengaruh oleh gunjingan adalah tujuan mereka. Jadi Raka memilih untuk membiarkan mereka berpikir sesuka hati.
"Tahu tidak? Wakil ketua kelas kita sering memergokinya pergi ke rumah sakit. Apa jangan-jangan dia sakit?"
"Bisa saja, kan? Ia memilih untuk menjadi pendiam dan merahasiakan penyakitnya?"
Raka memutar kedua matanya. Berpikirlah semaumu, bodoh, batinnya.
Ketika sebuah mobil Range Rover hitam terlihat memasuki gerbang sekolah, Raka beranjak dari tempatnya menuju mobil tersebut. Sopir yang ia tunggu sudah menjemputnya. Ia membuka pintu mobil penumpang dan masuk ke dalam mobil.
Dari kaca spion, ia dapat melihat satu geng penggosip itu masih memperhatikannya--atau lebih tepatnya, memperhatikan kepergian mobilnya dari kawasan sekolah. Raka mendecih seraya menggeleng pelan.
Sepanjang perjalanan, keadaan di mobil sunyi senyap. Meskipun sopirnya sudah bekerja dengannya semenjak ia kecil, Raka tidak pernah sekalipun mengajaknya bicara duluan. Ia tidak suka terlalu banyak bicara apalagi basa-basi. Ia juga tidak pernah menyalakan musik atau radio. Dia membencinya--setidaknya sejak setahun belakangan ini.
Sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Sudah ia duga, lagi-lagi pesan dari group chat. Ia membukanya hanya untuk membersihkan notifikasi yang penuh. Walau tidak kentara, tapi jika dilihat baik-baik, pupil matanya sedikit melebar melihat isi pesan-pesan itu.
Sang ketua OSIS rupanya membagikan foto-foto dari acara gathering murid dan orangtua yang diadakan hari Sabtu kemarin. Acara ini merupakan acara besar sekolahnya yang selalu diadakan tiap semester--dan adalah acara yang selalu ia lewatkan begitu saja. Menurutnya acara ini hanya membuang-buang waktu. Ia sebenarnya tidak tertarik dengan foto-foto itu, tapi entah kenapa seolah tangannya dapat bergerak sendiri menggeser foto itu satu per satu, melihat bagaimana serunya acara itu.
"Cih," Raka menggeleng pelan. Ia melempar ponselnya begitu saja ke jok belakang.
Matanya melirik jam digital yang ada pada dashboard mobil. Ia mengingat-ingat kegiatan apa saja yang biasa ia lakukan di hari Senin seperti ini. Yap, hanya bermalas-malasan di kamar. Seminggu yang lalu ia rajin menyicil membaca sepaket komik yang baru saja ia beli, tapi sekarang paket komik itu sudah selesai ia baca, jadi tidak ada hal penting yang dapat dilakukan hari ini.
"Pak, kita putar balik." ujarnya tiba-tiba.
Sang sopir terlihat terkejut juga, "Sekarang juga kita ke--"
"Iya." potongnya.
Sang sopir hanya mengangguk dan menuruti perintah tuan mudanya. Sudah menjadi tugasnya untuk membawanya kemanapun Raka mau. Pernah sekali lelaki muda itu meminta untuk membawanya berkeliling kota. Tanpa ada tujuan jelas kemana yang ia maksud, mereka hanya berputar-putar di jalanan saat itu. Tidak ada tempat tujuan berhenti. Ketika bensin mobil mulai habis, ia mengisinya lalu lanjut berputar-putar. Oh, tentu saja ia memaklumi perintah konyol seperti itu karena ia mengerti bagaimana keadaan Raka saat itu.
Jika saja sopirnya tidak menepuk pundaknya, Raka tidak akan sadar dari lamunannya kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan. Di rumah sakit. Seharusnya ia datang setiap Jumat, tapi tiba-tiba saja ia merasa harus datang ke tempat ini.
Raka turun dari mobil dan meninggalkan tasnya. Entah karena ia percaya dengan omongan penggosip itu atau apa, tiba-tiba saja dia melihat ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada si wakil ketua kelas yang mereka bicarakan.
"Lantai 10." gumamya seraya menekan tombol lift ketika sudah berada di dalam.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka ketika ia sampai di lantai 10.
Si wakil ketua kelas benar. Ia pergi ke rumah sakit ini secara rutin, bukan hanya sesekali. Dan geng penggosip itu juga benar. Karena hal ini, ia berubah menjadi Raka pendiam dan acuh. Dia tidak seperti ini dulu. Tidak pernah tiba-tiba membenci sesuatu, mengabaikan apa yang dianggapnya tidak penting, atau bahkan tidak peduli dengan orang lain. Semua yang dulu ia sukai, seperti musik, berubah menjadi hal-hal yang ia benci.
Raka membuka pintu salah satu ruangan di lorong itu.
Karena menurutnya semua yang ia sukai tidak akan terasa sama lagi semenjak..
"Ibu.."
Ibunya tidak kunjung terbangun dari tidur yang panjang.
Raka menghampiri satu-satunya ranjang yang ada di ruang rawat itu. Tepat sekali saat itu Dokter Johan dan suster sedang melakukan pengecekan terhadap ibunya yang terbaring dengan banyak selang di tubuhnya.
Sang dokter terlihat terkejut melihat Raka yang biasanya datang setiap hari Jumat, kini sudah mengunjungi ibunya dengan masih berseragam lengkap.
"Wah, Raka, tumben sekali. Ini masih hari Senin, kan?"
Raka hanya tersenyum tipis dan sekilas. Mungkin hanya kepada Dokter Johan lah ia masih bisa bersikap baik, "Ya, tiba-tiba saja aku ingin ke sini." jawabnya seadanya. "Jadi bagaimana perkembangan ibuku?"
Seperti yang ia duga, dokter tersebut lagi-lagi menghela napas berat, "Tidak ada kemajuan. Justru kemarin denyut nadi ibumu sedikit melemah."
"Lalu?"
Dokter Johan tersenyum tipis, "Tenang saja. Ibumu tidak apa-apa." ia berusaha menenangkan.
Raka mendudukkan dirinya pada sofa dan bersandar, diikuti oleh sang dokter.
Meskipun dari tampak luar ia memang terlihat dingin dan tidak peduli, tapi sejujurnya, ia merasa tidak tenang. Ia selalu merasa tidak tenang setiap ia datang ke rumah sakit ini. Ia selalu tidak tenang setiap memegang ponsel. Selalu ada dua kemungkinan yang bisa datang kapan saja, cepat atau lambat. Yang pertama, berita baik. Sesuatu yang sudah ia tunggu sejak setahun yang lalu. Seandainya ibunya dapat terbangun dari koma, maka ia berjanji akan kembali ke dirinya yang dulu. Ia mungkin akan meminta maaf pada teman-teman sekelasnya yang sudah dibuat kesal oleh sikapnya. Yang kedua, berita buruk. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut kemungkinan berita buruk apa yang selalu menghantuinya. Yang pasti, ia selalu mempersiapkan dirinya jika suatu saat mendengar berita tersebut--yang ia harap tidak pernah datang.
"Apa.. kau tidak mau melepaskannya saja?" pertanyaan sang dokter membuat lelaki itu mengerutkan dahi.
"Apa Dokter tahu? Dokter sudah menanyakan pertanyaan ini ribuan kali."
"Karena ini sudah setahun. Ibumu tidak menunjukkan perkembangan apapun. Apa biaya rumah sakit juga tidak membebani keluargamu? Mungkin sudah saatnya kau melepaskan ibumu."
"Ya, dan meninggalkanku sendiri menjadi anak yatim piatu. Tidak, terima kasih."
Dokter Johan kembali menghela napas berat. Ia dulu juga memegang ayah Raka sebagai pasiennya. Setelah kecelakaan mobil itu, ayah Raka hanya koma selama 3 hari sebelum akhirnya meninggal dunia, sementara ibunya jatuh koma dan belum terbangun sampai sekarang. Ia sendiri masih ingat bagaimana Raka merespon berita duka itu. Raka yang sejak kecil tidak pernah diajari atau dididik dengan kekerasan, tiba-tiba saja membuat onar di rumah sakit. Ia hampir menghabisi setiap orang yang lewat bahkan beberapa dokter ada yang terkena pukulannya. Tidak dapat ditebak apa yang akan terjadi jika itu terjadi pada ibunya.
"Tapi bukankah itu terlalu egois?"
"Apa?"
"Mungkin ibumu sudah seharusnya beristirahat dengan tenang, tapi kau justru menahannya tanpa kejelasan. Ia mungkin tetap tertidur tanpa ada penurunan atau kemajuan seperti ini karena dirimu. Jadi mungkin ini sudah saatnya kau melepaskannya."
"Oh, apa Dokter akan berpikir seperti itu juga jika berada di posisiku?" Raka balas bertanya. "Aku menahan ibuku karena akulah satu-satunya yang tidak mau kehilangannya. Apa Dokter pikir kakak laki-lakiku akan peduli? Dia terlalu menyukai kehidupan barunya di negara tetangga."
"Kakakmu juga menangis saat ayahmu tiada."
"Ya, dan setelah itu pergi lagi meninggalkanku begitu saja. Meninggalkanku berdua dengan ibuku yang tidak jelas masih hidup atau tidak."
"Hei--"
Raka menendang meja yang ada di depannya.
"Sangat menyebalkan! Kenapa semua orang meninggalkanku seperti ini? Apa aku melakukan hal buruk pada mereka? Aku punya banyak teman menyebalkan di sekolah dan salah satu dari mereka bahkan pernah membuat skandal di sekolah. Tapi mereka tetap bisa bersenang-senang di acara sekolah bersama orangtua mereka. Bukankah seharusnya orangtua mereka malu? Kalau begitu sekalian saja aku berubah menjadi orang menyebalkan yang tidak peduli pada siapapun, kan? Agar aku tidak pernah merasa kehilangan siapapun lagi. Saat ini aku hanya punya ibuku, tapi orang lain justru menyuruhku untuk membiarkan ibuku meninggalkanku juga."
Ia lalu bangkit dari duduknya.
"Aku pulang saja."
"Raka," Sang dokter menahan lengannya sebelum ia berjalan ke pintu. "Setidaknya sapalah ibumu dulu. Kau belum menggenggam tangannya hari ini." ujarnya dengan suara yang tenang. Ia tidak perlu ikut emosi dan melakukan perdebatan untuk yang kedua kalinya dengan anak ini. Bagaimanapun juga Raka adalah keluarga pasien. Keputusan berada di tangannya.
Mata anak lelaki itu melembut. Ah, benar juga, batinnya.
Ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju ranjang, sementara Dokter Johan memutuskan untuk meninggalkan ruangan untuk memberinya privasi.
Ibunya terlihat pucat seperti biasanya. Ia bernapas lega mendapati ibunya masih bernapas teratur layaknya orang yang tertidur. Melihat pergerakan kecil seperti itu saja sudah membuatnya tenang. Setidaknya ia tahu ibunya masih ada di sini.
Raka perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan dingin ibunya. Ia menggenggamnya dengan lembut tetapi erat. Dalam hati ia terus bertanya sampai kapan hanya dirinya yang menggenggam tangan ibunya seperti ini? Dia ingin suatu saat ibunya dapat membalas genggaman tangannya lagi. Dia tidak berharap yang muluk-muluk seperti menghadiri acara gathering sekolah dengan ibunya dan berpamer bahwa ia juga punya orangtua--karena tidak satupun temannya yang pernah melihat orangtua Raka datang ke sekolah. Dengan pergerakan sederhana seperti membuka matanya, Raka akan lebih dari senang. Seandainya itu terjadi.
"Ibu.." panggilnya tanpa mendapat balasan. "Aku pernah baca di internet kalau orang koma masih dapat mendengar apa yang orang lain bicarakan. Jadi.. Ibu sudah mendengarnya, bukan? Apa yang aku katakan pada Dokter Johan. Itu.. memang benar alasanku untuk tidak menyerah percaya selama setahun ini. Aku minta maaf jika itu memberatkan Ibu. Mungkin Ibu sudah sangat ingin bertemu Ayah, kan?"
Raka semakin menggenggam tangan itu semakin erat dan menempelkannya pada pipinya.
"Tapi aku mohon dengan sangat jangan tinggalkan aku sendirian. Ini permintaan terakhirku. Aku berjanji tidak akan merengek minta berlibur ke luar negeri lagi atau meminta sesuatu yang mahal. Aku akan dengan senang hati menerima kalau Ibu menarik uang jajanku lagi." Ia menghela napas berat. "Tapi kali ini aku hanya meminta hal sederhana. Bangunlah. Seperti dulu Ibu selalu bangun pagi-pagi buta dan membangunkanku untuk sekolah. Atau tunjukkan padaku bahwa Ibu masih di sini. Ibu... takkan meninggalkanku, kan? Iya, kan?"
Meski ia tahu pertanyaannya tidak akan mendapat jawaban, ia berharap ibunya dalam diam setuju pada perjanjian itu.
Raka mengalihkan perhatiannya pada air mata yang mengalir dari mata ibunya. Itu tidak mengejutkannya karena sudah terjadi beberapa kali. Awal pertama ia melihatnya, ia pikir itu adalah pertanda baik bahwa ibunya akan segera bangun. Tapi itu tidak kunjung terjadi. Hingga 365 hari lebih terlewat dengan hasil nihil.
Ia menidurkan kepalanya pada pinggir ranjang dengan masih menggenggam tangan ibunya. Matanya terpejam. Sopirnya yang menunggu tidak perlu cemas jika Raka tertidur di sini. Ia tidak pernah berkomentar akan hal itu dan justru tetap menunggunya di mobil. Raka bahkan pernah tertidur sampai pagi di sini dan sopirnya masih menunggu, bahkan tertidur di dalam mobil. Begitupun dengan Dokter Johan. Saat itu ia hendak melakukan pengecekkan pada ibu Raka dengan Raka yang masih tertidur. Ia tidak membangunkannya karena ia tahu Raka dapat tidur dengan nyaman bersama ibunya meski dengan posisi yang membuat sakit badan. Jika saja Raka sadar bahwa dia tidak pernah sendirian dan selalu ada orang yang menunggunya.
Tak lama setelah itu, ia merasakan sebuah pergerakan di tangannya. Suster menyebalkan itu lagi, batinnya dalam hati. Dokter Johan memang tidak pernah membangunkannya, tapi berbeda dengan para suster yang menurutnya sangat bawel. Membangunkannya dan mengingatkannya untuk pulang ke rumah.
Ia merasakan pergerakan itu lagi.
"Iya, iya, suster! Aku bangun!" serunya seraya mengangkat kepala dan mengusap mata dengan tangan satunya lagi.
Namun yang ia dapatkan hanya sebuah keheningan. Tidak ada suster yang datang. Ia juga tidak mendengar pintu ruangan dibuka.
Ia mengernyit heran dan menatap tangannya yang menggenggam tangan ibunya. Matanya melebar saat melihat jemari ibunya bergerak-gerak sedikit. Apa.. apakah ini normal seperti halnya ibunya mengeluarkan air mata? Ah, tidak Raka belum pernah melihat ini.
Jantungnya berdetak lebih cepat sambil terus memperhatikan. Semakin banyak jemari ibunya yang bergerak. Kemudian tangan halus itu tiba-tiba saja sudah membalas genggaman tangan Raka meski sangat lemah--seperti yang selalu Raka harapkan.
Ia menatap wajah ibunya dan kedua kelopak mata wanita berusia hampir 50 tahun itu perlahan tapi pasti terbuka. Raka dapat merasakan tubuhnya bergetar hebat. Anak lelaki itu bagaikan terkutuk menjadi batu. Untuk menggerakan jemarinya saja ia tidak bisa. Ia tidak bisa bergerak sama sekali atau bahkan berkata-kata. Apa... hari yang telah ia harapkan sudah tiba?
Jika ia diberi satu kesempatan permintaan lagi, ia memohon dengan sangat kepada Tuhan agar yang saat ini ia lihat bukan halusinasinya saja. Atau jangan-jangan dia masih bermimpi dalam tidurnya? Tidak, ini semua terasa sangat nyata. Genggaman ibunya sangat lemah, namun sebagai anak, ia dapat merasakannya dengan kuat dan itu menghangatkan hatinya. Jadi, apa ibunya benar-benar sudah terbangun dari tidur yang panjang?
"Raka.."
Kali ini ia dapat mendengar suara ibunya meski sangat lemah dan pelan. Kedua pupil ibunya bergerak-gerak dengan perlahan seolah mencari sesuatu. Dan saat mata itu sudah sepenuhnya terarah pada Raka, ibunya kembali menyebut namanya.
"I will never leave you again.."
Dan dengan kata sederhana itu, Raka langsung memeluk ibunya erat-erat seolah tiada hari esok. Ia bahkan tidak berniat untuk melepaskannya, seolah jika ia melepaskan pelukan itu, ibunya akan pergi meninggalkannya sekali lagi. Ia tidak biasanya menangis seperti ini. Ia bahkan tidak menangis saat kehilangan ayahnya, justru melampiaskannya pada amarah. Dalam hati ia sangat bersyukur dan mengucapkan kata terima kasih sebanyak-banyaknya, berjanji untuk rajin beribadah 5 waktu tanpa melewatkan satu pun.
Sekarang ibunya ada di sini. Ibunya benar-benar telah kembali dan ia di sini sekarang. Berada dalam pelukan Raka dan itulah yang seharusnya terjadi.
***
Manusia dan pandangan hidup
Manusia dan pandangan hidup
"Baginya, orang-orang yang suka mengusik kehidupan orang lain seharusnya diacuhkan saja. Perhatian adalah yang mereka inginkan. Dan membuat orang itu terpengaruh oleh gunjingan adalah tujuan mereka." (paragraf 6)
Raka berpendapat bahwa orang yang senang menggunjing orang lain tidak seharusnya terlalu dipikirkan dan diambil pusing karena perhatianlah yang mereka inginkan. Dan Raka tidak mau membuat mereka puas dengan memberinya perhatian.
Raka berpendapat bahwa orang yang senang menggunjing orang lain tidak seharusnya terlalu dipikirkan dan diambil pusing karena perhatianlah yang mereka inginkan. Dan Raka tidak mau membuat mereka puas dengan memberinya perhatian.
Manusia sebagai makhluk sosial
Dengan jarak yang kurang dari 2 meter dari tempat teman-temannya bergunjing, Raka tentu bisa mendengar apa saja yang mereka bicarakan tentang dirinya. (paragraf 6)
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat memisahkan hidupnya dari manusia lain dan terus melakukan interaksi sosial dengan manusia lain seperti mengobrol atau bergunjing.
Manusia dan teknologi
Sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Sudah ia duga, lagi-lagi pesan dari group chat. (paragraf 13)
Pada zaman globalisasi seperti sekarang, manusia tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Contoh kecil adalah ponsel. Kita dapat menyebarkan pesan dengan cepat dan mudah.
Manusia dan tanggung jawab
Sang sopir hanya mengangguk dan menuruti perintah tuan mudanya. Sudah menjadi tugasnya untuk membawanya kemanapun Raka mau. (paragraf 20)
Sopir Raka yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan keluarganya memiliki tanggung jawab untuk mengantar-jemput serta menemani Raka pergi kemanapun.
Manusia dan kekecewaan
Seperti yang ia duga, dokter tersebut lagi-lagi menghela napas berat, "Tidak ada kemajuan. Justru kemarin denyut nadi ibumu sedikit melemah." (paragraf 34)
Dokter Johan ikut merasa kecewa dengan tidak adanya kemajuan pada ibu Raka.
Manusia dan kegelisahan
Meskipun dari tampak luar ia memang terlihat dingin dan tidak peduli, tapi sejujurnya, ia merasa tidak tenang. Ia selalu merasa tidak tenang setiap ia datang ke rumah sakit ini. Ia selalu tidak tenang setiap memegang ponsel. (paragraf 38).
Raka merasa gelisah dan selalu menebak-nebak berita apa yang mungkin akan ia dapatkan. Hatinya merasa tidak tenang karena keadaan ibunya yang tidak kunjung membaik.
Manusia dan harapan
Yang pertama, berita baik. Sesuatu yang sudah ia tunggu sejak setahun yang lalu. Seandainya ibunya dapat terbangun dari koma, maka ia berjanji akan kembali ke dirinya yang dulu. (paragraf 38).
Raka selalu mengharapkan berita baik tentang ibunya. Dengan berjanji untuk menjadi lebih baik, Raka berharap Tuhan akan mengabulkan harapannya, yaitu ibunya lekas terbangun dari koma yang sudah berlangsung selama setahun.
Manusia dan kekhawatiran
Yang kedua, berita buruk. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut kemungkinan berita buruk apa yang selalu menghantuinya. Yang pasti, ia selalu mempersiapkan dirinya jika suatu saat mendengar berita tersebut--yang ia harap tidak pernah datang. (paragraf 38)
Raka merasa khawatir dan tidak tenang dengan keadaan ibunya. Ia khawatir jika suatu saat nanti berita buruk yang menghantui pikirannya terjadi meskipun ia sudah mempersiapkan dirinya.
Manusia dan musibah/penderitaan
Setelah kecelakaan mobil itu, ayah Raka hanya koma selama 3 hari sebelum akhirnya meninggal dunia, sementara ibunya jatuh koma dan belum terbangun sampai sekarang. (paragraf 43)
Musibah (kecelakaan mobil) yang terjadi pada orangtua Raka menewaskan ayahnya dan menjadi sebuah penderitaan untuk Raka yang kini menjadi anak yatim dengan ibunya yang masih terbaring koma, juga kakak laki-lakinya yang meninggalkannya sendiri.
Manusia dan amarah
Ia sendiri masih ingat bagaimana Raka merespon berita duka itu. Raka yang sejak kecil tidak pernah diajari atau dididik dengan kekerasan, tiba-tiba saja membuat onar di rumah sakit. Ia hampir menghabisi setiap orang yang lewat bahkan beberapa dokter ada yang terkena pukulannya. (paragraf 43)
Raka yang tidak terima atas kematian ayahnya melampiaskan rasa dukanya dengan amarah. Ia merasa marah dengan kinerja dokter dan rumah sakit yang menurutnya tidak maksimal dalam merawat ayahnya.
Manusia dan keadilan
"Sangat menyebalkan! Kenapa semua orang meninggalkanku seperti ini? Apa aku melakukan hal buruk pada mereka? Aku punya banyak teman menyebalkan di sekolah dan salah satu dari mereka bahkan pernah membuat skandal di sekolah. Tapi mereka tetap bisa bersenang-senang di acara sekolah bersama orangtua mereka. Bukankah seharusnya orangtua mereka malu?" (paragraf 52)
Raka merasa ada ketidak adilan karena tidak bisa memiliki orangtua yang utuh dan normal seperti teman-temannya. Ia merasa Tuhan berlaku tidak adil kepadanya dengan mengambil nyawa ayahnya, membuat ibunya terbaring koma, serta kakak laki-lakinya yang meninggalkannya sendirian seolah tidak peduli dengan keadaan.
Manusia dan kasih sayang
Ia menggenggamnya dengan lembut tetapi erat. Dalam hati ia terus bertanya sampai kapan hanya dirinya yang menggenggam tangan ibunya seperti ini? Dia ingin suatu saat ibunya dapat membalas genggaman tangannya lagi. (paragraf 59)
Raka menggenggam tangan ibunya karena hanya itu yang bisa ia lakukan kepadanya. Ia juga ingin merasakan kasih sayang ibunya lagi hanya dengan membalas genggaman tangannya, namun hal itu mustahil karena ibunya tak kunjung bangun.
written by: Rayi A.
Dengan jarak yang kurang dari 2 meter dari tempat teman-temannya bergunjing, Raka tentu bisa mendengar apa saja yang mereka bicarakan tentang dirinya. (paragraf 6)
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat memisahkan hidupnya dari manusia lain dan terus melakukan interaksi sosial dengan manusia lain seperti mengobrol atau bergunjing.
Manusia dan teknologi
Sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Sudah ia duga, lagi-lagi pesan dari group chat. (paragraf 13)
Pada zaman globalisasi seperti sekarang, manusia tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Contoh kecil adalah ponsel. Kita dapat menyebarkan pesan dengan cepat dan mudah.
Manusia dan tanggung jawab
Sang sopir hanya mengangguk dan menuruti perintah tuan mudanya. Sudah menjadi tugasnya untuk membawanya kemanapun Raka mau. (paragraf 20)
Sopir Raka yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan keluarganya memiliki tanggung jawab untuk mengantar-jemput serta menemani Raka pergi kemanapun.
Manusia dan kekecewaan
Seperti yang ia duga, dokter tersebut lagi-lagi menghela napas berat, "Tidak ada kemajuan. Justru kemarin denyut nadi ibumu sedikit melemah." (paragraf 34)
Dokter Johan ikut merasa kecewa dengan tidak adanya kemajuan pada ibu Raka.
Manusia dan kegelisahan
Meskipun dari tampak luar ia memang terlihat dingin dan tidak peduli, tapi sejujurnya, ia merasa tidak tenang. Ia selalu merasa tidak tenang setiap ia datang ke rumah sakit ini. Ia selalu tidak tenang setiap memegang ponsel. (paragraf 38).
Raka merasa gelisah dan selalu menebak-nebak berita apa yang mungkin akan ia dapatkan. Hatinya merasa tidak tenang karena keadaan ibunya yang tidak kunjung membaik.
Manusia dan harapan
Yang pertama, berita baik. Sesuatu yang sudah ia tunggu sejak setahun yang lalu. Seandainya ibunya dapat terbangun dari koma, maka ia berjanji akan kembali ke dirinya yang dulu. (paragraf 38).
Raka selalu mengharapkan berita baik tentang ibunya. Dengan berjanji untuk menjadi lebih baik, Raka berharap Tuhan akan mengabulkan harapannya, yaitu ibunya lekas terbangun dari koma yang sudah berlangsung selama setahun.
Manusia dan kekhawatiran
Yang kedua, berita buruk. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut kemungkinan berita buruk apa yang selalu menghantuinya. Yang pasti, ia selalu mempersiapkan dirinya jika suatu saat mendengar berita tersebut--yang ia harap tidak pernah datang. (paragraf 38)
Raka merasa khawatir dan tidak tenang dengan keadaan ibunya. Ia khawatir jika suatu saat nanti berita buruk yang menghantui pikirannya terjadi meskipun ia sudah mempersiapkan dirinya.
Manusia dan musibah/penderitaan
Setelah kecelakaan mobil itu, ayah Raka hanya koma selama 3 hari sebelum akhirnya meninggal dunia, sementara ibunya jatuh koma dan belum terbangun sampai sekarang. (paragraf 43)
Musibah (kecelakaan mobil) yang terjadi pada orangtua Raka menewaskan ayahnya dan menjadi sebuah penderitaan untuk Raka yang kini menjadi anak yatim dengan ibunya yang masih terbaring koma, juga kakak laki-lakinya yang meninggalkannya sendiri.
Manusia dan amarah
Ia sendiri masih ingat bagaimana Raka merespon berita duka itu. Raka yang sejak kecil tidak pernah diajari atau dididik dengan kekerasan, tiba-tiba saja membuat onar di rumah sakit. Ia hampir menghabisi setiap orang yang lewat bahkan beberapa dokter ada yang terkena pukulannya. (paragraf 43)
Raka yang tidak terima atas kematian ayahnya melampiaskan rasa dukanya dengan amarah. Ia merasa marah dengan kinerja dokter dan rumah sakit yang menurutnya tidak maksimal dalam merawat ayahnya.
Manusia dan keadilan
"Sangat menyebalkan! Kenapa semua orang meninggalkanku seperti ini? Apa aku melakukan hal buruk pada mereka? Aku punya banyak teman menyebalkan di sekolah dan salah satu dari mereka bahkan pernah membuat skandal di sekolah. Tapi mereka tetap bisa bersenang-senang di acara sekolah bersama orangtua mereka. Bukankah seharusnya orangtua mereka malu?" (paragraf 52)
Raka merasa ada ketidak adilan karena tidak bisa memiliki orangtua yang utuh dan normal seperti teman-temannya. Ia merasa Tuhan berlaku tidak adil kepadanya dengan mengambil nyawa ayahnya, membuat ibunya terbaring koma, serta kakak laki-lakinya yang meninggalkannya sendirian seolah tidak peduli dengan keadaan.
Manusia dan kasih sayang
Ia menggenggamnya dengan lembut tetapi erat. Dalam hati ia terus bertanya sampai kapan hanya dirinya yang menggenggam tangan ibunya seperti ini? Dia ingin suatu saat ibunya dapat membalas genggaman tangannya lagi. (paragraf 59)
Raka menggenggam tangan ibunya karena hanya itu yang bisa ia lakukan kepadanya. Ia juga ingin merasakan kasih sayang ibunya lagi hanya dengan membalas genggaman tangannya, namun hal itu mustahil karena ibunya tak kunjung bangun.
written by: Rayi A.

0 komentar