Kasus Bullying di Thamrin City

Senin, November 20, 2017



Bullying atau penindasan merupakan bentuk perilaku agresi dengan penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Sebagian besar kasus bullying terjadi pada anak sekolah. Biasanya terjadi antara senior dan junior, atau anak yang lebih kuat menindas anak yang lebih lemah.

Pada zaman serba teknologi seperti sekarang, bullying tidak hanya berupa penindasan tatap muka atau secara langsung, tetapi juga terjadi melalui media seperti internet atau media sosial. Hal ini disebut dengan cyberbullying.

Di Indonesia, hingga pertengahan tahun 2017, Kementrian Sosial mengaku telah menerima ratusan laporan terkait intimidasi. Di antara 976 kasus yang masuk, 400 di antaranya mengenai kekerasan seksual dan sekitar 117 kasus mengenai bullying

Sumber: 
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170722163858-277-229641/semakin-banyak-yang-melaporkan-kasus-bullying/

Contoh kasus bullying yang baru saja terjadi adalah insiden siswa SMP mem-bully siswa SD di Thamrin City.





TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaku menganiaya SW (12), siswi kelas VI SDN Kebon Kacang 003, Tanah Abang, di pusat perbelanjaan Thamrin City, pada Jumat (14/7/2017), karena merasa kesal.
Ini disampaikan HR (13), salah satu pelaku kekerasan dan perundungan.
HR merupakan salah satu siswa salah satu SMP swasta di DKI Jakarta.
HR merasa kesal terhadap SW karena komenter yang ditulisnya di media sosial Facebook.
"Dia mengatai saya cengeng, lalu, saya jawab kita buktikan siapa yang cengeng," kata dia, Senin (17/7/2017).
Insiden penganiayaan kepada SW (12), siswa kelas VI SDN Kebon Kacang, Tanah Abang, di pusat perbelanjaan Thamrin City, pada Jumat (14/7/2017), berawal dari perselisihan antara korban dengan pelaku.
Selain menganiaya SW, para pelaku juga mendokumentasikan insiden tersebut.
Lalu, mereka menyebarluaskan video rekaman itu ke media sosial.
Lalu, salah satu pelaku menantang korban untuk datang ke lantai 3 pusat perbelanjaan Thamrin City.
Sesampai di pusat perbelanjaan yang berada di wilayah Jakarta Pusat itu, sejumlah orang sudah menunggu korban. Seorang diri korban dianiaya sejumlah orang.
"Setelah pulang sekolah itu dihadang sama teman-temannya, ayo ke Thamrin City. Dibanting, ditendang ditonjok, dan diinjak," kata Mustakim.
Berselang satu hari dari insiden itu, korban didampingi pihak keluarga melaporkan ke Mapolsek Metro Tanah Abang.
Selain itu, korban dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk divisum, namun hasil visum belum keluar.
Sampai saat ini, aparat kepolisian masih menyelidiki kasus penganiayaan itu. Mustakim belum mengetahui secara pasti berapa jumlah pelaku yang turut terlibat.
Sumber:

Awal penyebab dari kasus bullying ini berawal dari sebuah komentar sang korban yang membuat pelaku bullying tersinggung. Pelaku yang tersulut emosinya memutuskan untuk menyerang korban secara langsung bersama teman-temannya dan melakukan penindasan seperti memukul, menginjak, dan menendang, sementara salah satu temannya lagi merekam insiden itu dan mengunggahnya ke media sosial.

Kasus bullying lebih sering terjadi kepada anak dibawah umur yang masih dilindungi oleh hukum. Pelaku bullying di bawah umur tidak seharusnya bebas dari hukuman. Pelaku bullying ini seharusnya diberi 'hukuman' yang berupa perbaikan moral atau mendapat perlakuan khusus selama masa 'hukuman'-nya. Dengan begitu, pelaku akan merasa kapok dan tidak mengulangi kesalahnnya.

Dalam menyikapi kasus bullying, kita sebagai mahasiswa tidak patut untuk mencontoh perilaku buruk tersebut. Kita tentu sudah tahu mana yang baik dan buruk. Sebaliknya, jika kita mengetahui salah satu teman kita menjadi korban bullying, kita harus cepat melaporkannya, kemudian memberi dukungan moral kepada korban agar kembali bangkit.

Solusi yang akan dilakukan dalam kasus di atas adalah berhati-hati dengan ucapan atau dalam menggunakan internet. Akan lebih baik jika kita tidak terlalu sering menggunakan internet untuk kepentingan yang sia-sia atau menyebarkan setiap aktivitas kita ke media sosial dan menghargai privasi diri sendiri.




by: Rayi A.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe