Basic Psychological Features of Cyberspace: Identity Flexibility

Selasa, Juli 02, 2019


Dalam berinteraksi di dunia maya, seseorang tidak dapat saling bertatap muka dengan pengguna internet lain. Kita sebagai pengguna internet dapat bebas menampilkan seluruh identitas kita, sebagian dari identitas kita, atau hanya menjadi seorang anonim. Sebagai contoh, dalam membuat suatu username di sosial media, kita dapat menuliskan nama kita atau menuliskan nama panggilan lain seperti ‘awkwardcrone’ atau ‘kimjuncotton’. Begitu pula dengan foto profil. Kita dapat memasang foto diri sendiri atau foto lain seperti gambar kartun sebagai avatar kita dalam dunia maya. Seseorang memilih untuk tidak mencantumkan identitas aslinya dalam dunia maya dapat dikarenakan oleh kebebasan mengekspresikan diri tentang hal pribadi yang tidak dapat didiskusikan secara face-to-face. Sebagai contoh, seseorang menuliskan pengalaman menyedihkan dirinya di suatu blog yang tidak dapat ia bicarakan dengan orang sekitarnya menggunakan nama samaran. Kebebasan dalam beridentitas ini juga dapat digunakan untuk melindungi privasi dirinya sendiri atas kejahatan-kejahatan yang ada di internet. Seperti, tidak menampilkan foto diri sendiri untuk mencegah penculikan dari orang-orang yang tak bertanggungjawab yang bisa saja melihat foto dari sang pemilik halaman profil. Pelaku kejahatan ini bisa juga menggunakan kebebasan dalam beridentitas untuk melakukan hal-hal kejahatan.

Anonim
Seseorang yang identitasnya tidak diketahui sama sekali, termasuk nama username. Seringkali orang menyalahgunakan fitur anonim untuk bebas berpendapat atau mengekspresikan diri tanpa bertanggungjawab atas perbuatannya. Seseorang dengan bebas menghujat atau menghina suatu figur publik atau orang lain tanpa orang itu tahu siapa penghujat atau penghinanya.

Pseudonim
Berbeda dengan anonim yang tak diketahui identitasnya sama sekali, pseudonim menggunakan nama alias dalam berinteraksi di dunia maya atau bahkan berpura-pura menjadi orang lain agar dirinya tak terungkap. Banyak sekali kasus orang yang tertipu setelah berkenalan dengan orang lain di sosial media. Seseorang dapat mengaku-ngaku bernama X dan memiliki pekerjaan sukses, tetapi sebenarnya namanya adalah Y dan tidak memiliki pekerjaan.

Dalam berselancar di dunia maya, kita hendaknya berhati-hati menampilkan identitas kita, mem-posting apa yang kita pikirkan, dan berinteraksi dengan orang lain yang tidak kita kenali. Di Indonesia, jika kita tidak bijak dalam menggunakan internet, kita dapat terjerat oleh hukum UU ITE. Maka, sudah seharusnya kita bijak dalam menggunakan internet.

Daftar pustaka:

John Suler. 1996. The Basic Psychological Features of Cyberspace di http://truecenterpublishing.com/psycyber/basicfeat.html (diakses 2 Juli)

By: Rayi A.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe