Review Jurnal SIP
Selasa, Oktober 06, 2020Sistem Pakar Deteksi Autisme Pada Anak Menggunakan Metode Fuzzy Tsukamoto
·
Berfokus
pada data (SIA/EDP):
Austime dipergunakan
untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol
yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom ini antara
lain ekspresi wajah yang kosong seolah sedang melamun, kehilangan pikiran, dan
sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau berkomunikasi.
Ciri-ciri autisme diantara lain adanya gangguan pada kognitif, bidang interaksi
sosial, komunikasi, persepsi sensoris, perilaku, dan bidang perasaan.
·
Berfokus
pada pendukung keputusan (SPK):
Sistem inferensi fuzzy merupakan suatu kerangka komputasi
yang didasarkan pada teori himpunan fuzzy,
aturan fuzzy yang berbentuk IF-THEN, dan penalaran fuzzy. Pada metode Tsukamoto, implikasi
setiap aturan berbentuk implikasi “sebab-akibat” di mana antara anteseden dan
konsekuen harus ada hubungannya. Tahap-tahap dalam metode Fuzzy Tsukamoto
adalah fuzzifikasi, pembentukan aturan, mesin inferensi, dan defuzzifikasi.
·
Berfokus
pada konsultasi (sistem pakar):
Aplikasi yang
dibangun berfungsi sebagai media informasi mengenai autisme dan perkembangan
anak, serta sebagai alat bantu dalam mendeteksi indikasi autisme anak. Sistem
yang dibangun ditujukan untuk penggunaan pada sisi end-user, yakni orang tua maupun pakar atau terapis yang berkaitan
dengan autisme anak. Oleh karena itu, aplikasi dibangun berbasis Android dan
antarmuka dirancang sederhana dan terstruktur alur operasionalnya. Sistem pakar
yang dibangun dapat memberikan hasil deteksi autisme berdasarkan kondisi anak
yang sesuai dengan aturan ASD Assessment
Scale yang direpresentasikan dari pakar dan perhitungan dengan metode Fuzzy
Tsukamoto.
Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Gangguan Autis Pada
Anak Dengan Metode Forward Chaining
·
Berfokus
pada data (SIA/EDP):
Autis berasal dari
kata ‘auto’ yang berarti sendiri.
Penyandang autis seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Autis merupakan
gangguan pervasif yang mencakup gangguan-gangguan dalam komunikasi verbal dan
non-verbal, interaksi sosial, perilaku, emosi, dan pengulangan perilaku yang
terjadi dalam kontinum ringan sampai parah. Autisme adalah suatu kondisi
mengenai seseorang sejak lahir atau saat masa balita yang membuat dirinya tidak
dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi dengan cara normal. Gejala
autis mulai terlihat sejak anak tersebut lahir atau masih kecil. Biasanya
sebelum anak berusia tiga tahun. Diagnosa autis sesuai DSM-IV, harus ada
sedikitnya enam gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal dua gejala dari (1) dan
masing-masing satu gejala dari (2) dan (3).
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal
balik. Minimal harus ada dua gejala dari gejala-gejala di bawah ini:
a) Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai:
kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang
tertuju
b) Tidak dapat bermain dengan teman sebaya
c) Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain
d) Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti
ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini:
a) Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang
(dan tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa
bicara)
b) Bila bisa bicara, bicaranya tidak dapat untuk komunikasi
c) Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
d) Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan
kurang bisa meniru.
3. Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang
dariperilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah
ini:
a) Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang
sangat khas dan berlebihlebihan
b) Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas
yang tidak ada gunanya
c) Ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang
d) Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda
·
Berfokus
pada pendukung keputusan (SPK):
Forward chaining adalah pencocokkan fakta atau penyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis.
·
Berfokus
pada konsultasi (sistem pakar):
Jika dari ketiga kelompok
itu didapatkan tanda tanda minimal dua gejala pada bagian gangguan kualitatif
dalam interaksi sosial, satu gejala dari gangguan kualitatif dalam bidang
komunikasi, dan satu gejala dari bentuk pola yang dipertahankan secara
berulang-ulang dari perilaku, minat dan kegiatan maka dari hasil diagnosa anak
tersebut mengalami gangguan autis.
Untuk memudahkan
pengoperasian sistem ini, maka rancangan antar muka dibagi atas beberapa jenis,
yang disesuaikan dengan fungsinya masing-masing yaitu:
Form Data Gangguan: Untuk memasukkan data gangguan yang baru ketikkan Id gangguan pada text-field Id gangguan dan tuliskan jenis gangguannya pada text-field jenis gangguan.
Form Gejala:
Form Diagnosa:
Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Gangguan Autis Pada
Anak Menggunakan Metode Certainity Factor
·
Berfokus
pada data (SIA/EDP):
Autisme merupakan salah satu
bentuk gangguan tumbuh kembang, berupa sekumpulan gejala akibat adanya kelainan
syaraf-syaraf tertentu yang menyebabkan fungsi otak tidak bekerja secar normal
sehingga mempengaruhi tumbuh kembang, kemampuan komunikasi, dan kemampuan
interaksi social seseorang. Gejala-gejala autisme dapat terlihat dari adanya
penyimpangan dari ciri-ciri tumbuh kembang anak secara normal, yaitu adanya
gangguan komunikasi, interaksi sosial, dalam bermain, perilaku, perasaan dan
emosi.
·
Berfokus
pada pendukung keputusan (SPK):
Faktor kepastian (Certanity
Factor) diperkenalkan oleh Shortliffe Buchanan dalam pembuatan MYCIN
(Kusumadewi, 2003). Certanity Factor (CF) merupakan nilai parameter klinis yang
diberikan MYCIN untuk menunjukkan besarnya kepercayaan. CF menunjukkan ukuran
kepastian terhadap suatu fakta atau aturan. Certanity Factor menggunakan suatu
nilai untuk mengasumsikan derajat keyakinan seorang pakar terhadap suatu data.
CF[H,E]=MB[H,E]-MD[H,E]……………………(1)
dengan:
CF[H,E] = Certainty Factor
dari hipotesis H yang dipengaruhi oleh gejala (evidence) E. Besarnya CF
berkisar antara -1 sampai 1.Nilai -1 menunjukkan ketidakpercayaan mutlak,
sedangkan nilai 1 menunjukkan kepercayaan mutlak.
MB[H,E] = ukuran kenaikan
kepercayaan (measure of increased belief) terhadap hipotesis H yang dipengaruhi
oleh gejala E.
MD[H,E]= ukuran kenaikan
ketidakpercayaan (measure of increased disbelief) terhadap hipotesis H yang
dipengaruhi oleh gejala E. Certainty factor untuk kaidah premis tunggal.
CF[H,E]1= CF[H] * CF[E]
]……………………(2)
Nilai certainty factor ada
2, yaitu:
1. Nilai certainty factor
kaidah yang nilainya melekat pada suatu kaidah/rule tertentu dan besarnya nilai
diberikan oleh pakar.
2. Nilai certainty factor
yang diberikan oleh pengguna untuk mewakili derajat kepastian/keyakinan atas
premis (misalnya gejala, kondisi, ciri) yang dialami pengguna.
Pada sistem pakar
diagnosa gangguan autis ini, ukuran ketidakpercayaan diabaikan atau dianggap
nol. Nilai CF diberikan pada tiap gejala yang menyertai suatu penyakit,
sehingga didapat banyak nilai CF untuk tiap gejala. Untuk menentukan nilai CF
akhir pada suatu diagnosa maka menggunakan rumus CF paralel sebagai berikut:
CF[h,e1^e2] =
CF[h,e1] + CF[h,e2] . (1 – CF[h,e1])....(3)
Keterangan :
CF[h,e1^e2] = faktor
kepastian paralel
CF[h,e1] = ukuran
kepercayaan terhadap hipotesis h, jika diberikan evidence e pertama (antara 0
dan 1)
CF[h,e2] = ukuran
kepercayaan terhadap hipotesis h, jika diberikan evidence e kedua (antara 0 dan
1)
Dalam aplikasinya, CF(H,E)
merupakan nilai kepastian yang diberikan oleh pakar terhadap suatu aturan,
sedangkan CF(E,e) merupakan nilai kepercayaan yang diberikan oleh pengguna
terhadap gejala yang dialaminya. Dalam diagnosa suatu penyakit, sangat dimungkinkan
beberapa aturan yang menghasilkan satu hipotesis dan suatu hipotesis menjadi
evidence bagi aturan lain. Dengan demikian perhitungan diperlukan sebanyak CF
gejala yang dipilih sesuai dengan masukan pengguna program ini.
·
Berfokus
pada konsultasi (sistem pakar):
Menu login berfungsi untuk validasi user dan menentukan hak akses. Cara pertama, memilih menu login kemudian memasukkan username, password dan level untuk masuk kedalam aplikasi.
By: Rayi A.
Source:
Chaq, A., dan Nudin,
S. (2016). Sistem pakar untuk mendiagnosa gangguan autis pada anak menggunakan
metode certainty factor. Jurnal manajemen
informatika, 5(1), 18-26.
Gardenia, M.,
Tursina, Pratiwi, H. (2016). Sistem pakar deteksi autisme pada anak menggunakan
metode fuzzy tsukamoto. Jurnal sistem dan
teknologi informasi, 4(1).
Gusman. (2015). Sistem pakar untuk mendiagnosa gangguan autis pada anak dengan metode forward chaning. Jurnal pendidikan dan teknologi informasi, 2(1), 25-42.











0 komentar