Artificial Intelligence (part 2)

Senin, November 30, 2020



Artificial Intelligence merupakan representasi pengetahuan yang berhubungan erat dengan teknologi berbasis komputerisasi dan menjadikan teknologi komputer perangkat teknologi cerdas yang memiliki kemampuan menyelesaikan aktivitas atau kinerja persis dengan kemampuan manusia. Perangkat teknologi cerdas itu kemudian dikembangkan lagi dalam ragam bentuk dan jenis sesuai dengan kebutuhannya. Bidang-bidang yang telah mempergunakan perangkat teknologi cerdas dalam aktivitasnya biasanya produktivitasnya akan meningkat dan menjadikan semuanya efisien, efektif, dan biaya ekonomis (Jamaludin, dkk., 2020).

Menurut Awangga, Andarsyah, & Putro (2020), tujuan dari artificial intelligence di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Membentuk teknologi atau mesin yang lebih pintar.
    Membuat suatu teknologi atau mesin menjadi lebih pintar sehingga akan memudahkan pekerjaan manusia. Selain untuk mengetik, komputer sekarang dikembangkan menjadi lebih pintar sehingga bisa untuk bermain game, mengedit video dan foto, dan lain-lain.
  2. Memahami kecerdasan.
    Membuat suatu mesin yang mampu memahami kecerdasan seperti memecahkan masalah lebih cepat, teliti, efektif, dan efisien.
  3. Membuat suatu teknologi yang lebih bermanfaat.
    Membuat suatu usaha mendapatkan hasil lebih maksimal karena teknologi dengan AI akan mempermudah pekerjaan. 

Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Gangguan Autis Pada Anak Dengan Metode Forward Chaining

Forward chaining adalah pencocokkan fakta atau penyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis.


Sistem pakar untuk mendiagnosa gangguan autis pada anak ini menggunakan metode inferensi maju (Fordward Chaining). Pemilihan metode ini didasari karena metode ini cocok diterapkan untuk mendapatkan hasil diagnosa dari beberapa kelompok gejala yang dimiliki. Diagnosa autis sesuai DSM-IV, bahwa ada tiga kelompok yang menjadi ciri-ciri dari gangguan autis pada anak di usia dini ini, yaitu ; ganggauan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik, gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, serta suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat dan kegiatan.



Jika dari ketiga kelompok itu didapatkan tanda tanda minimal dua gejala pada bagian gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, satu gejala dari gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, dan satu gejala dari bentuk pola yang dipertahankan secara berulang-ulang dari perilaku, minat dan kegiatan maka dari hasil diagnosa anak tersebut mengalami gangguan autis.

Form Menu Utama : Pada tampilan awal terdapat tiga tombol menu, yaitu menu untuk pakar, user dan exit, pada tombol pakar tidak semua sub-menu yang hidup, yang hidup hanya login saja, untuk menghidupkan beberapa tombol lain pakar di harapkan untuk login terlebih dahulu. Sedangkan untuk tombol user terdapat sub-menu diagnosa yang aktif dan bebas digunakan oleh user. Dan tombol exit untuk keluar dari aplikasi.


Form Login Pakar:


Form Data Gangguan: Untuk memasukkan data gangguan yang baru ketikkan Id gangguan pada text field Id gangguan dan tuliskan jenis gangguannya pada text field jenis gangguan.

Form Gejala:

Form Diagnosa:


Awangga, R., Andarsyah, R., & Putro, E. (2020). Tutorial object detection people with faster region-based convolutional neural network (faster r-cnn). Bandung: Kreatif Industri Nusantara.

Gusman. (2015). Sistem pakar untuk mendiagnosa gangguan autis pada anak dengan metode forward chaning. Jurnal pendidikan dan teknologi informasi, 2(1), 25-42.

Jamaludin, dkk. (2020). Tren teknologi masa depan. Medan: Yayasan Kita Menulis.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe